4.07.2010

Belasan Gempa Susulan Terjadi di Simeulue

.
0 komentar

Banda Aceh (ANTARA News) - Sedikitnya 15 kali gempa susulan terjadi pasca gempa bumi berkekuatan 7,2 Skala Richter (SR) yang mengguncang Kabupaten Simeulue, Provinsi Aceh, Rabu pukul 05.15 WIB.

"Belasan gempa susulan masih terjadi dengan kekuatan di bawah 5,0 SR, namun yang terus kami pantau hanya gempa berkekuatan di atas 5,0 SR," kata Kepala Kelompok Seksi (Kapoksi) Stasiun Geofisika Mata Ie, Eridawati yang dihubungi dari Banda Aceh, Rabu siang.

Stasiun Geofisika Mata Ie mencatat, dari belasan gempa susulan, ada lima gempa diantaranya yang berkekuatan di atas 5,0 SR dan berpusat di kepulauan tersebut.

"Biasanya kekuatan gempa susulan lebih kecil daripada gempa pertama, tapi kita akan terus pantau," tambahnya.

Gempa bumi yang terjadi menjelang shalat Subuh berkekuatan 7,2 SR berpusat di Kabupaten Simeulue dengan kedalaman 34 kilometer berjarak 73 kilometer arah tenggara Sinabang itu berpotensi tsunami sehingga sempat membuat panik masyarakat di provinsi paling barat Sumatra itu.

Akibat gempa bumi tersebut, puluhan warga Simeulue cidera berat maupun ringan dan terpaksa di rawat di rumah sakit lapangan karena takut gempa susulan.

Berikut lima gempa susulan yang berkekuatan diatas 5 skala richter:

1. Pukul 05.26 WIB, berkekuatan 5,1 SR pada kedalaman 24 kilometer berjarak 60 kilometer tenggara Sinabang pada posisi 2.30 lintang utara (LU)-96.87 BT (bujur timur).
2. Pukul 05.28 WIB, berkekuatan 5,0 SR pada kedalaman 10 kilometer berjarak 47 kilometer timur laut Sinabang pada posisi 2.54 LU-96.78 BT.
3. Pukul 05.34 WIB, berkekuatan 5,2 SR berpusat di 32 kilometer timur laut Gunung Sitoli Provinsi Sumatra Utara pada kedalaman 10 kilometer di posisi 1.51 LU-97.79 BT.
4. Pada pukul 05.54 WIB, berkekuatan 5,0 SR pada 77 kilometer barat laut Singkil Baru, Provinsi Aceh di posisi 2.33 LU-97.09 BT.
5. Pukul 06.35 WIB, berkekuatan di atas lima skala richter pada 71 kilometer tenggara Sinabang berkedalaman 28 kilometer pada posisi 1.88 LU-96.60 BT.

Read More »»

4.06.2010

Gempa 7,2 Skala Richter Guncang Aceh

.
0 komentar

Jakarta (ANTARA News) - Gempa bumi berkekuatan 7,2 pada Skala Richter (SR) mengguncang wilayah Provinsi Aceh dan sekitarnya, Rabu sekitar pukul 05.15 WIB.

Menurut laporan BMKG, pusat gempa berada di 2,30 derajat Lintang Utara dan 96,87 derajat Bujur Timur dengan pusat gempa sekitar 60 km tenggara Sinabang, Aceh, pada kedalaman 24 km.

Sejauh ini belum ada laporan lebih jauh mengenai gempa itu dan dampaknya terhadap penduduk serta daerah sekitar gempa.


Sementara itu, salah satu wilayah yang berdekatan dengan Aceh, yaitu Riau, tepatnya daerah pesisir Riau di Kota Dumai, Kabupaten Bengkalis dan Rokan Hilir, juga merasakan getaran gempa yang terjadi di Aceh itu.

"Saat sedang shalat tadi, terasa rumah bergoyang. Tidak hanya saya yang merasakan karena kami langsung keluar rumah, tetangga banyak yang keluar rumah," ungkap Anita seoramg warga Bagan Siapi-api, Rokan Hilir.

Ia mengatakan, goyangan gempa itu terjadi beberapa saat dan mengagetkan warga, bahkan membuat badan manusia sempoyongan dan beberapa peralatan rumah tangga ikut bergetar meski tidak ada yang jatuh dari meja.

Ardy, warga Dumai, yang menghubungi ANTARA mengakui merasakan gempa yang membuat getaran di rumahnya.

"Getaran gempa terasa cukup kuat," katanya.

Read More »»

KPK Periksa Mantan Dirut PLN

.
0 komentar

Jakarta (ANTARA News) - Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Selasa, memeriksa mantan Direktur Utama PT Perusahaan Listrik Negara, Fahmi Mochtar, terkait dugaan korupsi proyek Rencana Induk Sistem Informasi di perusahaan itu.

Fahmi menjalani pemeriksaan di gedung KPK sejak pukul 10.00 WIB dan baru keluar dari gedung tersebut sekira pukul 17.30 WIB.

Ketika meninggalkan gedung KPK, Fahmi tidak memberikan banyak penjelasan kepada wartawan.


"Saya dimintai keterangan sebagai saksi," kata Fahmi.

Dia mengaku melengkapi sejumlah data dan informasi terkait proyek yang dijalankan oleh PLN, khususnya wilayah distribusi Jakarta itu.

Fahmi menjelaskan, pemeriksaan itu terkait dengan jabatannya sebagai mantan General Manajer PLN wilayah distribusi Jakarta.

Dalam kasus itu, KPK telah menetapkan mantan Dirut PLN Eddie Widiono Suwondo sebagai tersangka.

Eddie dijerat dengan pasal 2 ayat (1) dan atau pasal 3 Undang-undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Unsur-unsur pasal itu antara lain adanya dugaan penyalahgunaan wewenang yang bisa memperkaya diri sendiri dan atau orang lain serta dapat mengakibatkan kerugian negara.

Kasus proyek Rencana Induk Sistem Informasi PLN itu dijalankan sejak 2000 sampai 2006. Untuk tahap awal, proyek itu dilakukan di wilayah distribusi Jakarta-Tangerang.

KPK menduga ada penggelembungan harga dalam proyek tersebut.

Read More »»

4.05.2010

Polri Selidiki Dugaan Edmon Alirkan Rp100 Juta

.
0 komentar

Jakarta (ANTARA News) - Penyidik Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Mabes Polri dan tim independen masih menyelidiki kemungkinan Brigjen Edmon Ilyas mengeluarkan dana Rp100 juta untuk sumbangan gempa Sumatera Barat yang diambil dari dana aliran rekening Gayus Tambunan.

"Itu kan orang menyumbang. Itu (dugaan aliran dana Edmon) sudah dilakukan pemeriksaan," kata Kepala Divisi (Kadiv) Humas Mabes Polri Irjen Edward Aritonang di Jakarta, Senin.

Edward menyatakan, belum ada pengakuan dari Edmon terkait dugaan mantan Direktur II Ekonomi Khusus Bareskrim Mabes Polri itu mengeluarkan uang Rp100 juta untuk menyumbang musibah gempa di Sumatera Barat.

Kadiv Humas Mabes Polri itu menjelaskan, informasi adanya aliran dana Gayus kepada Edmon untuk sumbangan korban gempa Sumatera Barat itu baru sebatas keterangan.

"Ini kan (pemeriksaan) simultan baru berjalan," ujar Edward.

Sebelumnya, info beredar Brigjen Edmon Ilyas diduga menerima aliran dana dari rekening Gayus sebesar Rp1,1 miliar, namun penyidik maupun tim independen belum menemukan alat buktinya.

Selain Edmon, dua penyidik Mabes Polri, yakni Kompol Arafat dan AKP Sri Sumartini menerima aliran dana dari Gayus dan Andi Kosasih untuk merekayasa kasus dan membuka pemblokiran rekening milik Gayus sebesar Rp25 miliar.

Kompol Arafat menerima sepeda motor "Harley Davidson", mobil "Fortuner" dan rumah, sedangkan AKP Sri Sumartini mendapatkan aliran dana Rp100 juta untuk menjalankan ibadah umroh.

Edward menegaskan, penyidik maupun tim independen akan memeriksaan siapapun termasuk atasan Edmon, yakni mantan Kepala Bareskrim, Komisaris Jenderal Susno Duadji apabila terindikasi terlibat menerima aliran dana.

Read More »»

4.04.2010

Kejati Dinilai Tidak Konsisten Tangani Kasus BNI

.
0 komentar

Semarang (ANTARA News) - Komite Penyelidikan dan Pemberantasan Kolusi Korupsi dan Nepotisme (KP2KKN) Jawa Tengah (Jateng) menilai Kejaksaan Tinggi Jateng tidak konsisten dalam menangani kasus dugaan korupsi pembangunan gedung Bank BNI 46 di Jalan dr. Cipto No.128 Semarang.

"Penilaian ini muncul terkait rencana pihak Kejati Jateng menghentikan penyidikan kasus dugaan korupsi tersebut," kata Sekretaris KP2KKN Jawa Tengah, Eko Haryanto, di Semarang, Minggu.

Ia menjelaskan, penegakan hukum khususnya dalam pemberantasan korupsi tidak hanya pada pengungkapan suatu kasus tersebut ke masyarakat, melainkan pada konsistensi dan keseriusan aparat penegak hukum yang menangani.

"Dalam penyidikan suatu kasus korupsi yang menyebabkan kerugian hingga ratusan juta rupiah, bahkan miliaran rupiah diperlukan keseriusan penegak hukum yang menangani kasus tersebut agar dapat selesai dengan tuntas," ujarnya.

Eko mengungkapkan, pihaknya kecewa dengan rencana Kejati Jateng berencana mengeluarkan surat perintah penghentian penyidikan (SP3) kasus dugaan korupsi tersebut.

Menurut dia, kekecewaan pihaknya disebabkan karena pada awal pengungkapan kasus dugaan korupsi pembangunan Bank BNI 46 ini pihak Kejati Jateng sangat antusias dengan mengekspos di berbagai media massa, namun akhirnya justru berencana menghentikan penyidikan kasus tersebut.

Sebelumnya, terkait dengan rencana penghentian penyidikan kasus tersebut, Kepala Kejati Jateng, Salman Maryadi, menegaskan dari hasil pemeriksaan di lapangan yang dilakukan tim ahli dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta tidak ditemukan adanya penyimpangan besaran teknis (bestek) dalam proses pembangunan gedung yang saat ini telah dihentikan.

"Karena tidak ditemukan adanya penyimpangan dalam pembangunan gedung tersebut maka proses penyidikan pada kasus dugaan korupsi ini akan dihentikan," katanya.

Kendati demikian, kata dia, pihaknya akan meminta hasil pemeriksaan yang lebih rinci lagi sebagai pertimbangan dalam mengeluarkan SP3.

Salman menambahkan, yang terpenting dalam penyidikan suatu kasus dugaan korupsi adalah pengembalian atau penyelamatan uang negara.

Pembangunan gedung Bank BNI 46 yang beralamat di Jalan dr. Cipto Nomor 128 Semarang dihentikan sejak tanggal 23 November 2006 karena telah terjadi retak rambut pada beberapa balok dan penurunan hingga 18,7 centimeter pada bangunan berlantai enam tersebut.

Selain itu, pada April 2008 bangunan gedung mengalami penurunan hingga 30 centimeter yang disertai lepasnya kaitan struktur kolom dan retak pada seluruh bagian gedung.

Proyek pembangunan Bank BNI 46 dibiayai anggaran dari BNI 46 Pusat sebesar Rp23 miliar dan dalam proyek ini PT Hutama Karya bertindak selaku kontraktor pelaksana pekerjaan proyek dengan nilai kontrak Rp21,950 miliar.

Sedangkan PT Wastu Adi Olah Rupa bertindak sebagai konsultan perencana dan PT Pola Dwipa sebagai konsultan pengawas, dengan masing-masing kontrak senilai Rp754 juta dan Rp290 juta.

Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) perwakilan Jawa Tengah yang telah melakukan audit proyek tersebut menemukan adanya kerugian sebesar Rp15,5 miliar.

Read More »»

4.02.2010

Ratusan Rumah di Kalsel Terendam

.
0 komentar

Martapura (ANTARA News) - Ratusan rumah warga yang tersebar di 14 desa di Kecamatan Astambul, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, terendam banjir akibat meluapnya air Sungai Riam Kiwa.

Banjir yang ternyata sudah menggenani daerah itu sejak Kamis (1/4) lalu itu, menurut pejabat pemerintah Kecamatan Astambul Muhammad Sonwani Agus, kini mulai surut dan ketinggian air tinggal 5 hingga 15 centimeter.

Di hubungi di Martapura, Sabtu, Sonwani mengatakan, terdapat 290 rumah di 14 desa yang letaknya berdekatan dengan aliran Sungai Riam Kiwa yang terendam banjir.


Desa-desa yang rumah warganya terendam air itu adalah Desa Sungai Alat sebanyak 79 rumah, Pingaran Ilir 61 rumah, Pingaran Ulu 49 rumah, Munggu Raya 18 rumah, Pasar Jati 17 rumah, Jati Baru 15 rumah, Banua Anyar Danau Salak 13 rumah.

Selanjutnya, Desa Astambul Seberang 12 rumah, Banua Anyar Sungai Tuan 9 rumah, Astambul Kota 7 rumah, Tambangan 6 rumah, Sungai Tuan Ilir 5 rumah serta Desa Sungai Tuan Ulu dan Kaliukan masing-masing 3 rumah terendam.

Dampak meluapnya Sungai Riam Kiwa juga dirasakan sejumlah warga dua desa di Kecamatan Martapura Kota yang terendam dengan ketinggian hingga lutut orang dewasa.

Camat Martapura Kota, Khairuddin Fahri, mengatakan, dua desa yang terendam air itu adalah Desa Tambak Baru yang merendam 30 rumah dan di Desa Tambak Baru Ulu 9 rumah tergenang.

"Hingga tadi malam, rumah warga masih terendam. Namun, laporan yang saya terima hingga pukul 12:00 Wita, air sudah mulai surut sehingga warga bisa kembali beraktivitas," ujarnya.

Read More »»

Tiga Tewas Akibat Mabuk-Mabukan dengan Racikan

.
0 komentar

Sumber (ANTARA News) - Pesta minuman keras (miras) racikan yang dilakukan oleh lima pemuda Desa Winong Blok Ketukan Kecamatan Gempol Kabupaten Cirebon mengakibatkan tiga tewas dan dua lainnya dirawat intensif di RS Sumber Waras Ciwaringin, Kabupaten Cirebon, Jumat.

Tiga korban tewas yaitu Asrori (30), Ujang (35) dan Suhani (35) sedangkan dua pemuda yang tertolong bernama Barjah (25) dan Karita (25).

Informasi yang dihimpun ANTARA News menyebutkan, kejadian itu berawal pada hari Rabu (31/3) sekitar pukul 15.00 WIB ketika, Asrori, Ujang, Suhani, Barjah dan Karita menggelar pesta miras dengan menenggak minuman keras racikan sendiri.

Merka meracik minuman dengan menggunakan minuman bersoda (Fanta merah) dengan lima botol alkohol murni 75 persen. Usai menggelar pesta miras tersebut, kelima pemuda tersebut pun pulang tanpa terjadi apa-apa.

Namun pada hari Kamis keesokan harinya, pengaruh minuman tersebut mulai dirasakan Asrori yang mengalami mual-mual dan muntah hingga berujung pada kematiannya.

Tidak berselang lama, hal serupa pun dialami Ujang dan Sohani dan keduanya segera dibawa keluarga ke RSUD Arjawinangun.

Dokter di rumah sakit tersebut menyatakan tidak sanggup dan menyarankan untuk dirujuk ke RS Sumber Waras. Namun, belum sempat keduanya mendapat perawatan, dalam waktu yang hampir bersamaan keduanya pun meninggal di rumah sakit tersebut.

Dua korban selamat Barjah saat ini masih menjalani perawatan intensif di RS Sumber Waras sedangkan Karita di RSUD Arjawinangun.

Dari penuturannya, Barjah mengaku dia bersama keempat temannya tersebut sering mabuk-mabukan dengan meminum minuman keras dari warung langganan. Kali ini mereka menggunakan alkohol murni 75 persen dengan dicampur minuman bersoda.

"Tadinya kami bermaksud supaya irit jadi menggunakan alkohol murni saja. Tapi ternyata malah jadi begini," katanya.

Sementara Safi`i, salah satu orang tua korban tewas bernama Ujang, mengatakan korban tidak mengaku telah menenggak minuman keras meski keadaannya sudah kritis.

"Dia hanya mengaku merasakan sakit pada perutnya dan tidak lama kemudian mengalami muntah-muntah hingga sempat tidak sadarkan diri. Kemudian kami bawa ke rumah sakit, namun ternyata dia meninggal di sana," katanya.

Petugas identiikasi dari Polsek Palimanan yang melakukan pencarian barang bukti di lokasi kejadian hanya menemukan beberapa tutup botol alkohol murni 75 persen.(ANT/A038)

Read More »»